LAUTAN88 🌊 Mengapa permukaan laut naik lalu surut? Pasang surut dan tarikan Bulan serta Matahari menjelaskan perubahan pesisir—juga mengapa waktunya tidak selalu sama di setiap tempat.
Before you buy
-
Review the item preview
-
Check software compatibility
-
Read the license terms
-
Check the included files

Product details
Pasang surut adalah perubahan naik dan turunnya permukaan laut, tetapi iramanya tidak sama di semua pesisir. Fenomena ini dipengaruhi gabungan gaya gravitasi Bulan dan Matahari, pengaruh orbit Bulan mengelilingi Bumi, serta efek sentrifugal. Meski ukurannya lebih kecil daripada Matahari, Bulan memiliki pengaruh sekitar dua kali lebih besar dalam membangkitkan pasang surut karena jaraknya lebih dekat ke Bumi [1].
Tarikan Bulan dan Matahari membentuk pola pasang
Gravitasi menarik air laut ke arah Bulan dan Matahari. Interaksi gaya-gaya tersebut menghasilkan dua tonjolan pasang surut di laut, sementara efek sentrifugal mengarah ke luar dari pusat rotasi Bumi [1]. Naik-turunnya air yang terlihat di pesisir merupakan bagian dari pola pasang surut itu.
Dalam siklus Bulan, rentang antara pasang dan surut berubah secara sistematis. Ketika Bumi, Bulan, dan Matahari berada dalam satu garis lurus, terjadi pasang purnama atau spring tide: pasang naik menjadi sangat tinggi dan surut menjadi sangat rendah. Keadaan ini berlangsung saat Bulan baru maupun Bulan purnama [1].
Saat Bulan berada pada kuartal pertama atau ketiga, posisi Bumi, Bulan, dan Matahari membentuk sudut tegak lurus. Pasang naik pun lebih rendah dan surutnya tidak serendah saat pasang purnama; pola ini disebut pasang perbani atau neap tide [1].
Setiap pesisir punya irama pasut sendiri
Periode pasang surut dihitung dari satu puncak ke puncak berikutnya, atau dari satu lembah ke lembah berikutnya [1]. Di berbagai wilayah, pola harian dan jarak waktunya dapat berbeda. Beberapa tipe yang dicatat antara lain:
- Pasang surut harian ganda: dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari, dengan tinggi yang hampir sama. Contohnya terdapat di perairan Selat Malaka hingga Laut Andaman [1].
- Pasang surut harian tunggal: satu kali pasang dan satu kali surut dalam sehari. Pola ini, misalnya, terdapat di sekitar Selat Karimata [1].
- Pasang surut campuran condong ke harian ganda: dua kali pasang dan dua kali surut, tetapi tinggi dan periodenya berbeda. Tipe ini terdapat di sebagian besar perairan Indonesia bagian timur [1].
- Pasang surut campuran condong ke harian tunggal: umumnya satu kali pasang dan satu kali surut, meski kadang untuk sementara terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi serta periode yang sangat berbeda. Contohnya terdapat di pantai selatan Kalimantan dan pantai utara Jawa Barat [1].
Perbedaan pola itu menjelaskan mengapa waktu pasang di satu pesisir tidak bisa begitu saja dijadikan patokan untuk pesisir lain. Bentuk perairan dan konfigurasi dasar samudra juga memengaruhi rentang pasang surut [1]. Jadi, selain memperhatikan jam terjadinya pasang, penting pula memahami pola setempat dan seberapa besar perubahan tinggi airnya.
Mengapa perkiraan pasang surut diperlukan
Pasang surut mengubah kedalaman perairan dan menimbulkan arus pasang. Karena itu, perkiraannya diperlukan untuk navigasi pantai, kegiatan pelabuhan, dan pembangunan di kawasan pesisir [1]. Memahami hubungan antara Bulan, Matahari, dan pola lokal membantu menjelaskan mengapa perubahan air laut yang tampak rutin tetap memiliki jadwal dan rentang berbeda dari satu tempat ke tempat lain.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Pasang surut. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=28057320&title=Pasang_surut (diakses 2026-10-17).
Categories
